Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa

Pengangguran merupakan salah satu masalah besar yang jamak ditemukan di seluruh negara di dunia. Tidak hanya di negara-negara berkembang, tapi juga di negara-negara maju. Khusus untuk In-donesia, tingkat penganggurannya masih relatif tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada 2014 mencapai 6,25 persen atau sekitar 7,9 juta orang.

Dari jumlah itu, sebanyak 688.660 orang bersumber dari perguruan tinggi (PT). Perinciannya, 495.143 penganggur bergelar sarjana dan sisanya berjumlah 193.517 berpendidikan diploma.

Pakar Pendidikan Arief Rachman menilai, realita tersebut tak dapat dilepas- kan dari pola pikir mahasiswa pada umumnya. Mahasiswa cenderung berkeinginan menjadi pencari kerja (job seeker) ketimbang pencipta lapangan kerja (job creator). Oleh karena itu, Arief menuturkan, salah satu upaya mengurangi pengangguran, yaitu dengan menanamkan dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan dalam diri mahasiswa.

Kewirausahaan seharusnya dimulai dengan pembentukan karakter wirausaha, seperti kreativitas, keberanian, percaya diri, kemampuan mengadakan negosiasi, serta kemampuan dalam berbicara. Kesemua karakter ini dapat diterapkan di seluruh mata kuliah. Menurut Arief, pemberian mata kuliah kewirausahaan di kampus tidak cukup, bahkan tidak dapat menumbuhkan jiwa kewirau- sahaan mahasiswa.

“Dengan mencetak jiwa wirausaha, setidaknya akan mengurangi tingkat pengangguran,” ujar Arief. Guru Besar Universitas Negeri Jakarta ini berpendapat, materi kewirausahaan yang diberikan PT secara umum sudah baik. Namun, dia menyayangkan materi-materi yang ada tidak dibarengi dengan proses pembelajaran yang tepat.

Proses pembelajaran masih banyak menerapkan metode belajar satu arah, yaitu berpusat pada dosen atau pengajar. Sehingga, tidak mengherankan dilog yang terjadi teramat minim. Padahal, kata Arief, berani berbicara dan berdialog itu merupakan salah satu bibit dari jiwa kewirausahaan.

Lebih lanjut, pria yang pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII) ini menambahkan, cara efektif menelurkan jiwa kewirausahaan adalah merangsang kreativitas mahasiswa. Caranya, dengan memberi peluang agar mahasiswa mau melakukan penelitian dan mencoba menerapkan teori yang dipelajari di dalam praktik.

Langkah PT Untuk mencetak lulusan berjiwa kewirausahaan, PT dan pemerintah secara mandiri membuka program-program kewirausahaan untuk mahasiswa. Sebagai contoh, Universitas Indonesia (UI).

Kasubdit Inkubator Bisnis, Direktorat Inovasi, dan Inkubator Bisnis (DIIB) UI Nurul Safitri mengakui, secara holistik, UI belum sepenuhnya memperhatikan pentingnya menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Tidak semua fakultas memiliki mata kuliah kewirausahaan.

Namun, secara spesifik, mahasiswa dapat menemui mata kuliah MPKT (Mata Kuliah Peng- embangan Kepribadian Terintegrasi) yang meliputi pembentukan softskill, leadership, dan kewirausahaan. Selain dari sisi mata kuliah, UI juga kerap mengadakan seminar serta program-program kewirausahaan yang dapat merangsang kreativitas mahasiswa.

Salah satu program, yaitu UI Incubate. Selain memberikan dana hibah kepada mahasiswa yang terpilih, UI Incubate memberikan pendampingan sekaligus membukakan jalan untuk menjajaki dunia industri yang lebih besar sesuai dengan produk yang dibuat. “Program ini dikhususkan untuk para mahasiswa yang sudah memiliki rintisan usaha. Tujuannya, agar usaha yang tadinya mikro dapat berkembang menjadi makro,” ujar Nurul.

Menurut Nurul, UI Incubate memfasilitasi para wirausaha muda dengan memberikan pendampingan dan pengetahuan di bidang bisnis hingga mengembangkan bisnis mereka. Setelah mereka dapat berproduksi secara baik dan mulai berkem- bang, produk mereka dapat didaftarkan hak patennya oleh UI. Dengan demikian, hasil karya tersebut akan terlindungi.

Selain mata kuliah dan program kewirausahaan, jiwa wirausaha dapat dibangun melalui aktivitas pengabdian terhadap masyarakat. Menurut Deputi Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPSOS) Universitas Nasio- nal (Unas) Firdaus Syam, kewirausahaan sejatinya bertujuan untuk pengabdian masyarakat dengan mengaplikasikan keahlian mahasiswa sesuai dengan disiplin ilmunya. “Setelah lulus kuliah, mahasiswa akan dapat memaksimalkan keahlian yang dimiliki dengan memberikan manfaat dalam bentuk produk, baik berupa barang ataupun jasa,” kata Firdaus.

Pengabdian masyarakat, menurut Firdaus, pada dasarnya dimaksudkan untuk merespons hal-hal yang dibutuhkan ma-syarakat sesuai dengan disiplin ilmunya.

Akan tetapi, tetap dibekali dengan sema- ngat kewirausahaan dan kemandirian agar lebih aplikatif. Firdaus menilai, materi kewirausahaan dan pembentukan karakter sangat penting karena merupakan bekal terjun ke masyarakat, peradaban, dan ling kungan secara langsung dan nyata.

Contoh kewirausahaan mahasiswa Jiwa kewirausahaan sekaligus sema- ngat mengabdi terhadap masyarakat terbukti dapat ditumbuhkan dalam setiap mahasiswa melalui program-program kewirausahaan yang ada di PT. Salah satu contoh dapat dilihat dari usaha pembuatan kapal yang digagas alumni UI Sanlaruska Fathernas bersama rekan-rekannya saat menjalani perkuliahan dulu. Usaha yang diberi nama “Juragan Kapal” ini lolos didanai UI melalui kompetisi UI Young Smart Enterpreneurship Program pada 2011.

Juragan Kapal merupakan wujud dari pelajaran yang diterima mahasiswa perkapalan Fakultas Teknik UI dengan menggunakan riset dosen, yaitu kapal pelat datar. Juragan Kapal menjadikan kapal patah-patah sebagai sarana pengelolaan sampah yang efektif di danau UI sekaligus mengembangkan pengelolaan wisata air di danau UI. Dengan bentuk kapal yang unik, ke depannya, Sanlaruska menargetkan kapal ini bisa menjadi kapal nasional yang bisa dipakai oleh seluruh nelayan Indonesia atau pun instansi pemerintahan. “Kalau kapal ini bisa jadi kapal nasional, secara tidak langsung dapat menangkal kapal-kapal asing yang masuk ke Indonesia,” kata Sanlaruska. c16,¬†ed:¬†Muhammad Iqbal